Senin, 13 Januari 2014

KESEMPATAN, TAPI BUKAN KEBETULAN

Ketika saya sendang bertukar pikiran dengan teman tentang kehidupan, ada cerita dan pandangan yang dia utarakan yang menggelitik saya. Dia bercerita demikian :
Hidup ini sudah ada yang mengatur, Tuhan yang menentukan arah hidup setiap manusia. Untuk itu hidup harus kita jalankan sekedarnya, sebagai contoh, kita yang berusaha demikian keras dalam mencari uang, tapi tetap saja hasilnya hanya cukup buat makan, tapi lihat saudara saya, dia tidak terlalu pintar, hidup biasa saja, tapi begitu dapet objekan, keuntunganya berlipat-lipat, dia bisa hidup senang, padahal usaha yang dia keluarkan hanya sedikit saja. Jadi kesimpulannya adalah kita tidak usah terlalu berusaha, jalankan saja bila nanti memang kehendak yang Maha Kuasa kita akan menjadi orang berhasil dan orang kaya.
Saya melihat pandangan yang sangat berbahaya ketika seseorang mengambil kesimpulan yang salah dalam kehidupan. Bahkan bila kesimpulan tersebut dia ambil untuk menjadi patokan dalam arah hidup selanjutnya.
Kata-kata teman saya pada awalnya sepertinya benar, “Hidup sudah ada yang mengatur, Tuhan yang menentukan arah hidup setiap manusia”. Ingat Tuhan memberikan manusia kebebasan untuk memilih, kita boleh mengambil jalan apapun untuk menentukan arah hidup, jangan kita menyalahkan Tuhan ketika kehidupan kita tidak berhasil atau tidak sesuai dengan keinginan.
Biasanya saya mengambil perumpamaan untuk menjawab pernyataan seperti ini, karena dengan perumpamaan kita diajak untuk menjadi orang ke 3 dalam cerita, bukan menjadi orang pertama ataupun orang kedua. Ketika seseorang kita ajak menjadi orang ke 3 maka pandangannya dalam melihat masalah menjadi lebih objektif, tidak lagi subjektif.
Berikut perumpamaan yang saya berikan :
Jaman dahulu ada orang yang hidupnya sebagai pemburu, dia tinggal bersama ibunya. Karena dia hidup sebagi pemburu, dia harus bangun pagi-pagi untuk mencari binatang buruan ke hutan. Nah pada suatu hari dia bangun pagi-pagi sekali, mencari binatang buruan untuk makan sampai ke dalam hutan. Hari itu dia sangat sial karena dari pagi dia tidak melihat seekor hewanpun yang dapat dia buru. Setelah lewat tengah hari, menjelang sore dia kecapean, akhirnya dia duduk dibawah pohon, lalu tertidur.
Setelah menjelang sore dia terbangun karena mendengar suara, ketika dia bangun dia melihat seekor kelinci yang meloncat dekat dengan tempatnya duduk, dan kelinci tersebut terpeleset mengenai batu lalu mati. Dengan gembira dia ambil kelinci tersebut dan dia bawa kerumah untuk makan malam. Ibunya juga senang dengan hasil buruan tersebut.
Dia berpikir saya berusaha dari pagi tapi tidak mendapat buruan, tapi ketika saya duduk dan beristirahat, bahkan tertidur, saya justru mendapatkan buruan. Pagi-pagi benar si pemburu bangun dan mulai kembali ketempat dia mendapatkan kelinci kemarin dan mulai duduk di bawah pohon lagi. Dia berharap akan ada kelinci lewat lagi dan terpeleset mati. Lalu ketika dia tidak mendapatkan kelici lagi, yang dia pikir adalah dia harus merubah letak dari batu atau menambah batu agar kelinci yang terpeleset semakin banyak dan semakin sering.
Apa yang terjadi ? apakah akan ada lagi kelinci yang lewat dan terpeleset mati ? Tentu saja tidak akan terulang kembali kebetulan seperti itu.
Jadi bila kita lihat si pemburu yang demikian bodohnya apakah kita akan sama seperti dia duduk dan menunggu nasib kita berubah sendiri ?

Selasa, 29 Januari 2013

Tuhan selalu ingin kita mengasihi sesama kita

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa.
Entah karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius.
Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya.
Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini retak.
Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.
Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang kakak.
Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu.
“Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan” kata pria itu dengan ramah.
“Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan?”
“Oh ya !?” jawab sang kakak. “Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku.
Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.
Kata tukang kayu, “Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang.”Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai Kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.
Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.
Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.
”Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku”
kata sang adik pada kakaknya.
Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan.
Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.
”Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak.
“Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini,” kata tukang kayu,
“Tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.”
TUHAN SELALU INGIN KITA BERSAMA DALAM DAMAI SEJAHTERA
TUHAN SELALU INGIN MEMPERSATUKAN HATI KITA
TUHAN SELALU INGIN KITA MENGASIHI SESAMA KITA, SAUDARA KITA.
KARENA TUHAN ADALAH SAHABAT SETIA, PENOLONG KITA.
PERCAYALAH BAHWA TUHAN SELALU INGAT PADA KITA. MANUSIA.
Sadarkah kita bahwa :
Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat yang ada di depan.
Kita lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu di kanan sehingga kita dapat mendengar dari dua sisi dan dua arah. Menangkap pujian maupun kritikan, Dan mendengar mana yang salah dan mana yang benar.
Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Karena tak seorang pun dapat mencuri isi otak kita. Yang lebih berharga dari segala permata yang ada.
Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup Dengan satu mulut. Karena mulut tadi adalah senjata yang tajam , Yang dapat melukai, memfitnah, bahkan membunuh. Lebih baik sedikit bicara, tapi banyak mendengar dan melihat.
Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita. Untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk hati. Belajar untuk mencintai dan menikmati untuk dicintai, tetapi Jangan pernah mengharapkan orang lain mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan.
Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup ini terasa menjadi lebih indah

Minggu, 01 Juli 2012

LUKA BAKAR



ABAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan. Dua puluh tahun lalu, seorang dengan luka bakar 50% dari luas permukaan tubuh dan mengalami komplikasi dari luka dan pengobatan dapat terjadi gangguan fungsional, hal ini mempunyai harapan hidup kurang dari 50%. Sekarang, seorang dewasa dengan luas luka bakar 75% mempunyai harapan hidup 50%. dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk memulangkanpasien dengan luka bakar 95% yang diselamatkan. Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius.
Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan khusus yang berbeda. Karakteristik ini meliputi luasnya, penyebab(etiologi) dan anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan permukaan tubuh yang besar atau yang meluas ke jaringan yang lebih dalam, memerlukan tindakan yang lebih intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superficial. Luka bakar yang disebabkan oleh cairan yang panas (scald burn) mempunyai perbedaan prognosis dan komplikasi dari pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau paparan radiasi ionisasi. Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan yang berbeda dibandingkan karena sengatan listrik (elektrik) atau persikan api. Luka bakar yang mengenai genetalia menyebabkan resiko ifeksi yang lebih besar daripada di tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar pada kaki atau tangan dapat mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan memerlukan tehnik pengobatan yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang lain. Pengetahuan umum perawat tentang anatomi fisiologi kulit, patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk mengenal perbedaan dan derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk mengantisipasi harapan hidup serta terjadinya komplikasi multi organ yang menyertai.
Prognosis klien yang mengalami suatu luka bakar berhubungan langsung dengan lokasi dan ukuran luka bakar. Faktor lain seperti umur, status kesehatan sebelumnya dan inhalasi asap dapat mempengaruhi beratnya luka bakar dan pengaruh lain yang menyertai. Klien luka bakar sering mengalami kejadian bersamaan yang merugikan, seperti luka atau kematian anggota keluarga yang lain, kehilangan rumah dan lainnya. Klien luka bakar harus dirujuk untuk mendapatkan fasilitas perawatan yang lebih baik untuk menangani segera dan masalah jangka panjang yang menyertai pada luka bakar tertentu.
Selama dinas di ICU Lt.4 RSU Dr. Pirngadi Medan,  kelompok menemui beberapa pasien dengan kasus luka bakar, dan kelompok juga menegetahui bahwa kasus luka bakar ini sangat serius untuk ditangani karena jika tidak dapat ditangani secara cepat dan tepat maka akan sangat mengancam nyawa pasien tersebut. Luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur. Hal inilah yang melatarbelakangi kelompok mengangkat judul dengan kasus luka bakar.

1.2.    Tujuan
            Adapun tujuan pemaparan makalah ini adalah :
a.  Untuk mengetahui defenisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostic, dan penatalaksanaan.
b.  Untuk mengetahui bagaimana pelaksaan asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi) pada klien dengan diagnose medis post debridement ex electric burn.
c.  Untuk mengetahui perkembangan pasien yang telah diberikan intervensi mandiri dan kolaborasi keperawatan. 
d.  Untuk membuka wawasan pengetahuan dunia kesehatan terutama keperawatan tentang perawatan luka bakar.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1. TINJAUAN TEORITIS MEDIS
2.1.1.   Definisi Luka Bakar ( Combustio)
              Luka bakar (combustio) adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi ( Moenajat, 2001). Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Ilmu Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).

Askep Combustio




2.1.2.   Etiologi Luka Bakar
1.  Luka Bakar Suhu Tinggi (Thermal Burn)
a.  Gas
b.  Cairan
c.  Bahan padat (Solid)
2.  Luka Bakar Bahan Kimia (Chemical Burn)
3.  Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)
4.  Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)




2.1.3.   Anatomi dan Fisiologi Kulit
                 Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m² dengan berat kira-kira 15% berat badan.


Anatomi kulit secara histopatologik :
Penampang Kulit
Penampang Kulit
Tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu :
1. Lapisan epidermis atau kutikel
Terdiri atas :
ü Stratum korneum (lapisan tanduk)
Merupakan lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk)
ü Stratum lusidum
Terdapat di bawah stratum korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin.
ü Stratum granulosum (lapisan keratohialin)
Merupakan bagian dengan 2-3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir-butir kasar yang terdiri atas keratohialin dan terdapat inti di antaranya.
ü Stratum spinosum / stratum malpighi / prickle cell layer / lapisan akanta
Terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dengan inti terletak di tengah-tengah. Sel-sel ini makin ke permukaan makin gepeng bentuknya. Di antaranya terdapat jembatan antar sel (intercelluler bridge) yang terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero, terdapat pula sel – sel Langerhans.
ü Stratum Basale
Terdiri dari sel-sel berbentuk kubus / kolumnar yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Lapisan ini berfungsi reproduktif dengan adanya mitosis. Terdapat pula sel pembentuk melanin (melanosit) yang merupakan sel-sel berwarna muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen (melanosomes)
2. Lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin)
Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian :
ü Pars papilare
Bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
ü Pars retikulare
Bagian dibawahnya yang menonjol ke arah subkutan. Terdiri atas serabut-serabut penunjang yaitu serabut kolagen, elastin, dan retikulin.
3. Lapisan subkutis (hipodermis)
Kelanjutan dermis dan terdiri atas jaringan ikat longggar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus yaitu pleksus superfisial (di bagian atas dermis) dan pleksus profunda (di subkutis). Pleksus di dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus di subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anstomosis, di bagian ini pembuluh darah berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran getah bening.
Adenksa Kulit :
- Kelenjar kulit
Terdapat di bagian dermis terdiri atas kelenjar keringat (glandula sudorifera) dan kelenjar palit (glandula sebasea). Kelenjar keringat terdiri dari kelenjar ekrin dan apokrin.
- Kuku
- Rambut
Fisiologi Kulit :
1.    Perlindungan
Kulit melindungi tubuh dari mikroorganisme, penarikan atau kehilangan cairan, dan dari zat iritan kimia maupun mekanik. Pigmen melanin yang terdapat pad akulit memberikan perlindungan terhadap sinar ultraviolet matahari.
2.    Pengaturan suhu tubuh
Pembuluh darah dan kelenjar keringat dalam kulit berfungsi untuk mempertahankan dan mengatur suhu tubuh.
3.    Ekskresi
Zat berlemak, air, dan ion-ion seperti Na diekskresi melalui kelenjar-kelenjar pada kulit.
4.    Metabolisme
Dengan bantuan radiasi sinar matahari atau sinar ultraviolet, proses sintesis vitamin D yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang, dimulai dari sebuah molekul prekusor (dehidrokolesterol-7) yang ditemukan di kulit.
5.    Komunikasi
a. Semua stimulus dari lingkungan diterima oleh kulit melalui sejumlah reseptor khusus yang mendeteksi sensasi yang berkaitan dengan suhu, sentuhan, tekanan, dan nyeri.
b.Kulit merupakan media ekspresi wajah dan refleks vaskular yang penting dalam komunikasi.


2.1.4.  Patofisiologi
              Menurut Hudak dan Gallo (1997), patofisiologi pasien dengan luka bakar dapat digambarkan sebagai berikut :





















MK:jalan nafas tidak efektif
 





Cairan intravaskuler menurun
 







MK:
-       Kekurangan volume cairan
-       Gangguan perfusi jaringan
 


 















2.1.5.   Fase Luka Bakar
1. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.
6.    Fase sub akut
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
1.  Proses inflamasi dan infeksi.
2.  Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.
3. Keadaan hipermetabolisme.
3.  Fase lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.







2.1.6.   Klasifikasi Luka Bakar
Klasifikasi Combustio1. Dalamnya Luka Bakar













Klasifikasi Combustio :
·           Luka Bakar Tingkat I
Kedalaman : Ketebalan partial superfisial
Penyebab : Jilatan api, sinar ultra violet (terbakar oleh matahari).
       Penampilan : Kering tidak ada gelembung, oedem minimal atau tidak ada, pucat bila ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas.
Warna : Bertambah merah.
Perasaan : Nyeri
·           Luka Bakar Tingkat II
Kedalaman : Lebih dalam dari ketebalan partial, superfisial, dalam.
       Penyebab : Kontak dengan bahan air atau bahan padat, jilatan api kepada pakaian, jilatan langsung kimiawi, sinar ultra violet.
       Penampilan : Blister besar dan lembab yang ukurannya bertambah besar, pucat bila ditekan dengan ujung jari, bila tekanan dilepas berisi kembali.
Warna : Berbintik-bintik yang kurang jelas, putih, coklat, pink, daerah merah coklat.Perasaan : Sangat nyeri
·           Luka Bakar Tingkat III
Kedalaman : Ketebalan sepenuhnya
Penyebab : Kontak dengan bahan cair atau padat, nyala api, kimia, kontak dengan arus listrik.
       Penampilan : Kering disertai kulit mengelupas, pembuluh darah seperti arang terlihat dibawah kulit yang mengelupas, gelembung jarang, dindingnya sangat tipis, tidak membesar, tidak pucat bila ditekan.
Warna : Putih, kering, hitam, coklat tua, hitam, merah.
Perasaan : Tidak sakit, sedikit sakit, rambut mudah lepas bila dicabut.
2. Luas Luka Bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atau rule of wallace yaitu:
1)   Kepala dan leher                                          :    9%
2)   Lengan masing-masing 9%                         :     18%
3)   Badan depan 18%, badan belakang 18%    :    36%
4)   Tungkai masing-masing 18%                       :    36%
5)   Genetalia/perineum                                      :      1%
    Total    : 100%
role-of-nine












3.Derajat Luka Bakar
Untuk derajat luka bakar dibagi menjadi 4, yaitu :
a. Grade I
- Jaringan yang rusak hanya epidermis.
- Klinis ada nyeri, warna kemerahan, kulit kering.
- Tes jarum ada hiperalgesia.
- Lama sembuh + 7 hari.
- Hasil kulit menjadi normal.
b. Grade II
Grade II a
- Jaringan yang rusak sebagian dermis, folikel, rambut, dan kelenjar keringat utuh.
- Rasa nyeri warna merah pada lesi.
- Adanya cairan pada bula.
- Waktu sembuh + 7 - 14 hari.
Grade II b
- Jaringan yang rusak sampai dermis, hanya kelenjar keringan yang utuh.
- Eritema, kadang ada sikatrik.
- Waktu sembuh + 14 – 21 hari.
c. Grade III
- Jaringan yang rusak seluruh epidermis dan dermis.
- Kulit kering, kaku, terlihat gosong.
- Terasa nyeri karena ujung saraf rusak.
- Waktu sembuh lebih dari 21 hari.
d. Grade IV
Luka bakar yang mengenai otot bahkan tulang.

4. Pengelolaan luka bakar
a. Luka bakar ringan
- Luka bakar grade I dan II luasnya kurang 15 % pada orang dewasa.
- Luka bakar grade I dan II luasnya kurang 10 % pada anak
- Luka bakar grade III luasnya kurang 2 %

b. Luka bakar sedang
- Luka bakar grade II luasnya 15 – 25 % pada orang dewasa
- Luka bakar grade II luasnya 10 – 20 % pada anak
- Luka bakar grade II luasnya kurang 10 %
c. Luka bakar berat
- Luka bakar grade II luasnya lebih dari 25 % pada orang dewasa
- Luka bakar grade II luasnya lebih dari 20 % pada anak
- Luka bakar grade III luasnya lebih dari 10 %
- Luka bakar grade IV mengenai tangan, wajah, mata, telinga, kulit, genetalia serta persendian
ketiak, semua penderita dengan inhalasi luka bakar dengan konplikasi berat dan menderita DM.

2.1.7. Penatalaksanaan
A. Resusitasi A, B, C.
1) Pernafasan:
a) Udara panas : mukosa rusak, oedem & obstruksi.
b) Efek toksik dari asap (HCN, NO2, HCL, Bensin) : iritasi, bronkhokontriksi, obstruksi & gagal nafas.
2) Sirkulasi:
Gangguan permeabilitas kapiler (cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler) : hipovolemi relatif, syok, ATN & gagal ginjal.
B. Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka.
C. Resusitasi cairan
Baxter :
Dewasa : Baxter.
RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.
Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:
RL : Dextran = 17 : 3
2 cc x BB x % LB.
Kebutuhan faal:
< 1 tahun : BB x 100 cc
1 – 3 tahun : BB x 75 cc
3 – 5 tahun : BB x 50 cc
½ à diberikan 8 jam pertama
½ à diberikan 16 jam berikutnya.
Contoh : BB = 40 kg
4 ml x 40 x 50 = 8000 ml
8 jam I = 166 tts/i
16 jam II = 83 tts/i
D. Monitor urine dan CVP (central Venous Pressure)
E. Topikal dan tutup luka
- Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik.
- Tulle.
- Silver sulfa diazin tebal.
- Tutup kassa tebal.
- Evaluasi 5 – 7 hari, kecuali balutan kotor.
F. Obat – obatan
o Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian.
o Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai kultur.
o Analgetik : kuat (morfin, petidine)
o Antasida : kalau perlu

2.1.8.   Komplikasi
1)  Infeksi.
Infeksi merupakan masalah utama. Bila infeksi berat, maka penderita dapat mengalami sepsis. Berikan antibiotika berspektrum luas, bila perlu dalam bentuk kombinasi. Kortikosteroid jangan diberikan karena bersifat imunosupresif (menekan daya tahan), kecuali pada keadaan tertentu, misalnya pda edema larings berat demi kepentingan penyelamatan jiwa penderita.
2) Curling’s ulcer (ulkus Curling).
Ini merupakan komplikasi serius, biasanya muncul pada hari ke 5–10. Terjadi ulkus pada duodenum atau lambung, kadang-kadang dijumpai hematemesis. Antasida harus diberikan secara rutin pada penderita luka bakar sedang hingga berat. Pada endoskopi 75% penderita luka bakar menunjukkan ulkus di duodenum.
3) Gangguan Jalan nafas.
Paling dini muncul dibandingkan komplikasi lainnya, muncul pada hari pertama. Terjadi karena inhalasi, aspirasi, edema paru dan infeksi. Penanganan dengan jalan membersihkan jalan nafas, memberikan oksigen, trakeostomi, pemberian kortikosteroid dosis tinggi dan antibiotika.
4) Konvulsi.
Komplikasi yang sering terjadi pada anak-anak adalah konvulsi. Hal ini disebabkan oleh   ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia, infeksi, obat-obatan (penisilin, aminofilin, difenhidramin) dan 33% oleh sebab yang tak diketahui.
5) Kontraktur
6) Ganguan Kosmetik akibat jaringan parut

2.2. TEORITIS KEPERAWATAN
2.2.1.   Pengkajian
a) Aktifitas/istirahat:
Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.
b) Sirkulasi:
Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).
c) Integritas ego:
Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.
Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.
d) Eliminasi:
Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.
e) Makanan/cairan:
Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.
f) Neurosensori:
Gejala: area batas; kesemutan.
Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).
g) Nyeri/kenyamanan:
Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; sementara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.
h) Pernafasan:
Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi).
Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi.
Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).


i) Keamanan:
Tanda:
Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka.
Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok.
Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal.
Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab.
Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis;
atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera.
Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar.
Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik).
j) Pemeriksaan diagnostic
(1)   LED: mengkaji hemokonsentrasi.
(2)   Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
(3) Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.
(4)   BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
(5)   Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
(6)   Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
(7) Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif.
(8)   Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Marilynn E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for Planning and Documenting Patient Care mengemukakan beberapa Diagnosa keperawatan sebagai berikut :
1   Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada.
2 Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan.
3 Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.
4 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.
5   Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.
6   Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena, contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema.
7   Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik (sebanyak 50 % - 60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.
8 Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.
9   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam).
10 Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi; kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan dan nyeri.
11 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi.

2.2.3.   Intervensi
Berikut ini adalah tujuan, kriteria dan intervensi untuk 5 diagnosa keperawatan utama :
a.  Resiko bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial;oedema mukosa; kompressi jalan nafas.
Tujuan : Bersihan jalan nafas tetap efektif.
Kriteria : Bunyi nafas vesikuler, RR dalam batas normal, bebas dispnoe/cyanosis.
Intervensi :
-    Kaji reflek gangguan / menelan; perhatikan pengaliran air liur, ketidakmampuan menelan, serak, batuk mengi.
-    Awasi frekuensi, irama, kedalaman pernafasan ; perhatikan adanya pucat/sianosis dan sputum mengandung karbon atau merah muda.
-    Auskultasi paru, perhatikan stridor, mengi/gemericik, penurunan bunyi nafas, batuk rejan.
-    Perhatikan adanya pucat atau warna buah ceri merah pada kulit yang cidera
-    Tinggikan kepala tempat tidur. Hindari penggunaan bantal di bawah kepala, sesuai indikasi
-    Dorong batuk/latihan nafas dalam dan perubahan posisi sering.
-    Hisapan (bila perlu) pada perawatan ekstrem, pertahankan teknik steril.
-    Tingkatkan istirahat suara tetapi kaji kemampuan untuk bicara dan/atau menelan sekret oral secara periodik.
-    Selidiki perubahan perilaku/mental contoh gelisah, agitasi, kacau mental.
-    Awasi 24 jam keseimbngan cairan, perhatikan variasi/perubahan.
-    Lakukan program kolaborasi meliputi :
-    Berikan pelembab O2 melalui cara yang tepat, contoh masker wajah
-    Awasi/gambaran seri GDA
-    Kaji ulang seri rontgen
-    Berikan/bantu fisioterapi dada/spirometri intensif.
-    Siapkan/bantu intubasi atau trakeostomi sesuai indikasi.
b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan.

Tujuan : Pasien dapat mendemostrasikan status cairan dan biokimia membaik.
Kriteria : tak ada manifestasi dehidrasi, resolusi oedema, elektrolit serum dalam batas normal, haluaran urine 1-2 cc/kg BB/jam.
Intervensi :
-    Awasi tanda vital, CVP. Perhatikan kapiler dan kekuatan nadi perifer.
-    Awasi pengeluaran urine dan berat jenisnya. Observasi warna urine dan hemates sesuai indikasi.
-    Perkirakan drainase luka dan kehilangan yang tampak
-    Timbang berat badan setiap hari
-    Ukur lingkar ekstremitas yang terbakar tiap hari sesuai indikasi
-    Selidiki perubahan mental
-    Observasi distensi abdomen,hematomesis,feces hitam.
-    Lakukan program kolaborasi meliputi :
> Pasang / pertahankan kateter urine
> Pasang/ pertahankan ukuran kateter IV.
> Berikan penggantian cairan IV yang dihitung, elektrolit, plasma, albumin.
-    Awasi hasil pemeriksaan laboratorium ( Hb, elektrolit, natrium ).
-    Berikan obat sesuai idikasi :
> Diuretika
> Kalium
> Antasida
-    Pantau:
>   Tanda-tanda vital setiap jam selama periode darurat, setiap 2 jam selama periode akut, dan setiap 4 jam selama periode rehabilitasi.
>   Warna urine.
>   Masukan dan haluaran setiap jam selama periode darurat, setiap 4 jam selama periode akut, setiap 8 jam selama periode rehabilitasi.
>   Hasil-hasil Lab dan laporan elektrolit.
>   Berat badan setiap hari.
>   CVP (tekanan vena sentral) setiap jam bial diperlukan.
>   Status umum setiap 8 jam.
-    Pada penerimaan rumah sakit, lepaskan semua pakaian dan perhiasan dari area luka bakar.
-    Mulai terapi IV yang ditentukan dengan jarum lubang besar (18G), lebih disukai melalui kulit yang telah terluka bakar. Bila pasien menaglami luka bakar luas dan menunjukkan gejala-gejala syok hipovolemik, bantu dokter dengan pemasangan kateter vena sentral untuk pemantauan CVP.
-    Beritahu dokter bila: haluaran urine < 30 ml/jam, haus, takikardia, CVP < 6 mmHg, bikarbonat serum di bawah rentang normal, gelisah, TD di bawah rentang normal, urine gelap atau encer gelap.
-    Konsultasi doketr bila manifestasi kelebihan cairan terjadi.
-    Berikan antasida yag diresepkan atau antagonis reseptor histamin seperti simetidin
c. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.
Tujuan : Pasien dapat mendemonstrasikan oksigenasi adekuat.
Kriteria : RR 12-24 x/mnt, warna kulit normal, GDA dalam renatng normal, bunyi nafas
bersih, tak ada kesulitan bernafas.
Intervensi :
-    Pantau laporan GDA dan kadar karbon monoksida serum.
-    Berikan suplemen oksigen pada tingkat yang ditentukan. Pasang atau bantu dengan selang endotrakeal dan temaptkan pasien pada ventilator mekanis sesuai pesanan bila terjadi insufisiensi pernafasan (dibuktikan dnegna hipoksia, hiperkapnia, rales, takipnea dan perubahan sensorium).
-    Anjurkan pernafasan dalam dengan penggunaan spirometri selama tirah baring.
-    Pertahankan posisi semi fowler, bila hipotensi tak ada.
-    Untuk luka bakar sekitar torakal, beritahu dokter bila terjadi dispnea disertai dengan takipnea. Siapkan pasien untuk pembedahan debridement sesuai pesanan.
d.  Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi
Tujuan : Pasien bebas dari infeksi.
Kriteria : tak ada demam, pembentukan jaringan granulasi baik.

Intervensi :
-    Pantau:
> Penampilan luka bakar (area luka bakar, sisi donor dan status balutan di atas sisi tandur bial tandur kulit dilakukan) setiap 8 jam.
> Suhu setiap 1 jam.
> Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.
-    Bersihkan area luka bakar setiap hari dan lepaskan jarinagn nekrotik (debridemen) sesuai pesanan. Berikan mandi kolam sesuai pesanan, implementasikan perawatan yang ditentukan untuk sisi donor, yang dapat ditutup dengan balutan vaseline atau op site.
-    Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. Gunakan sarung tangan steril dan beriakn krim antibiotika topikal yang diresepkan pada area luka bakar dengan ujung jari. Berikan krim secara menyeluruh di atas luka.
-    Beritahu dokter bila demam drainase purulen atau bau busuk dari area luka bakar, sisi donor atau balutan sisi tandur. Dapatkan kultur luka dan berikan antibiotika IV sesuai ketentuan.
-    Tempatkan pasien pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka bakar luas yang mengenai area luas tubuh. Gunakan linen tempat tidur steril, handuk dan skort untuk pasien. Gunakan skort steril, sarung tangan dan penutup kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Tempatkan radio atau televisis pada ruangan pasien untuk menghilangkan kebosanan.
-    Bila riwayat imunisasi tak adekuat, berikan globulin imun tetanus manusia (hyper-tet) sesuai pesanan.
-    Mulai rujukan pada ahli diet, beriakn protein tinggi, diet tinggi kalori. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral.
e. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manipulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.
Tujuan : Pasien dapat mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan.
Kriteria : menyangkal nyeri, melaporkan perasaan nyaman, ekspresi wajah dan postur tubuh rileks
Intervensi :
-    Berikan anlgesik narkotik sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. Evaluasi keefektifannya. Anjurkan analgesik IV bila luka bakar luas.
-    Pertahankan pintu kamar tertutup, tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra untuk memberikan kehangatan.
-    Berikan ayunan di atas temapt tidur bila diperlukan.
-    Bantu dengan pengubahan posisi setiap 2 jam bila diperlukan. Dapatkan bantuan tambahan sesuai kebutuhan, khususnya bila pasien tak dapat membantu membalikkan badan sendiri.

BAB III
TINJAUAN KASUS


A.          Identitas Klien
Nama                              :     Nn. J
Tempat/Tgl Lahir           :     Medan 23 Januari 1992
Jenis Kelamin                 :     Perempuan
Agama                            :     Islam
Alamat                           :     Gunung Tua
Pendidikan                     :     D-III
Pekerjaan                        :     Mahasiswa
Tanggal Masuk RS         :     29-12-2011
Tanggal Pengkajian        :     09-01-2012
Sumber informasi           :     Keluarga

I.                   Pengkajian Primer
A.    Airway                      :    Jalan nafas clear
B.     Breathing                  :    RR= 24x/i, ada tanda-tanda sesak
C.     Circulation                :    HR= 118x/i
D.    Disability                   :    Tingkat kesadaran Composmentis
E.     Exposure                   :    Suhu 36,7oC
F.      Folley Chateter         :    Klien terpasang kateter, ± 500cc, kuning dan bau  khas
G.    Gastrictube                :    NGT tidak terpasang, nafsu  makan kurang
H.    Hard Monitoring       :    HR = 118x/i, RR = 18x/i, TD = 114/47 mmHg, suhu =                       36,7oC, SPO­­2 = 96%.

II.                Pengkajian Sekunder
A.    Keluhan saat masuk rumah sakit : Nyeri pada bagian leher dan Extremitas atas/bawah
B.     Riwayat penyakit sekarang : saat ini pasien belum tenang, masih meringis kesakitan.
C.     Riwayat penyakit terdahulu : Tidak ada penyakit yang diderita pasien sebelumnya
D.    Diagnosa Medis saat masuk RS : Combutio grade IIb 50%

III.             Pengkajian Fisik
Kepala
Bentuk                                                            :  Oval
Keluhan yang berhubungan              : Tidak terdapat benjolan
Rambut                                               :  Rambut hampir habis akibat terbakar

Mata
Bentuk                                                :  Simetris kiri dan kanan
Ukuran pupil                                       :  Isokor
Reaksi terhadap cahaya                       :  Baik
Akomodasi                                          :  (-)
Selera                                                  :  Tidak dijumpai ikterus
Konjungtiva                                        :  Tidak dijumpai anemi
Tanda-tanda peradangan                    :  Tidak ada
Operasi                                                :  Tidak pernah
Kacamata                                            :  Tidak ada
Lensa kontak                                       :  Tidak ada
Lain-lain (terangkan kelainannya)       :  (-)

Hidung
Bentuk                                                            :  Normal
Tanda-tanda peradangan                    :  Tidak ada
            Reaksi alergi                                        :  Tidak ada
            Polip                                                    :  Tidak ada
            Sinus                                                   :  Tidak ada
            Perdarahan                                          :  Tidak Pernah
            Pernah mengalami flu                         :  Pernah
            Bagaimana frekuensinya dalam setahun : Flu hanya sementara

Leher
Bentuk                                                     : Tidak terdapat kelainan
Warna kulit                                              : Agak hitam
Tanda-tanda peradangan                         : Tidak ada
Kelenjar tiroid                                          : Tidak terdapat kelaianan
Kelenjar limfe                                          : Tidak terdapat kelainan

Ekstremitas atas
Bentuk                                                        :  Simetris
Kekuatan                                                    :  Lemah
Rentang gerak                                            :  Pasif
Refleks                                                       :  Lemah

Ekstremitas bawah
Bentuk dan kekuatan                                 :  Simetris
Kekuatan                                                    :  Lemah
Rentang gerak                                            :  Pasif
Reflleks                                                      :  Lemah








V.  Pemeriksaan Labolatorium
1. 29 Desember 2011
Analisa Gas Darah
No
Test
Unit
Hasil
Normal
Arterial
Venous
1
pH

7,474
7,35 – 7,45
7,31 – 7,41
2
PCO2
mmHg
24,7
35 – 45
41 – 51
3
PO2
mmHg
184,7
80 – 105

4
TCO2
mmol/l
19,1
23 – 27
24 – 29
5
HCO3
mmol/l
18,3
22 – 26
23 – 28
6
Base Excess
mmol/l
-5,5
(-2) – (+3)
(-2) – (+3)
7
O2 Saturasi
%
99,4
95 - 98
95 - 98

Hasil Pemeriksaan Hematologi
No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
1
Hb (Cyan)
18,4
Pr : 12-14 , Lk : 14-16 gr/dl
2
Lekosit
32000
4-10 103/mm3
3
Hematokrit
52
36 - 48 %
4
Reticulosit

0.5 – 2 %
5
Trombosit Indirek

/LP
6
Trombosit Direct
3080003
150-450 103/mm3
7
Masa Perdarahan

< 6 menit
8
Masa Bekuan

< 15 menit
9
Rumple Leede

Negatif

Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik

No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Fungsi Hati

Bilirubin Total
0,76
0,00 – 1,20 mg/dl

Bilirubin Direct
0,14
0,05 – 0,3 mg/dl

SGOT
40
0 – 40 U/l

SGPT
44
0 – 40 U/l

Alkali Phosphatase
47
64 – 306 U/l

Gamma GT 250C

10 – 47 U/l

Total protein

6,0 – 8,3 g/dl

Albumin

3,6 – 5,0 g/dl

Globulin

1,9 – 3,2 % g/dl
Fungsi Ginjal

Ureum
42
10 – 50 mg/dl

Creatinin
0,76
0,6 – 1,20 mg/dl

Uric Acid
5,0
3,5 – 7,0 mg/dl


CPK 250C

0 – 190 U/l

LDH

240 – 480 U/l

CKMB

< 24 U/l


Cholesterol Total

140 – 200 mg/dl

Trigliserida

10 – 190 mg/dl

HDL – Cholesterol

35 – 55 mg/dl

LDL – Cholesterol

<190 mg/dl

Elektrolit



Natrium
143
136 – 155 mmol/dl

Kalium
4,6
3,5 – 5,5 mmol/dl

Chlorida
100
95 – 103 mmol/dl

2.  02 Januari 2012
Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik

No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal

Elektrolit



Natrium
144
136 – 155 mmol/dl

Kalium
4,3
3,5 – 5,5 mmol/dl

Chlorida
102
95 – 103 mmol/dl
Metabolisme Glukosa

Darah
Reduksi


Gula Puasa


60 – 110 mg/dl

2 jam PP


< 140 mg/dl

Andrandon
86

<140 mg/dl

HBA 1 C


6,0 %

3.  04 Januari 2012
Hasil Pemeriksaan Hematologi
No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
1
Hb (Cyan)
8,5
Pr : 12-14 , Lk : 14-16 gr/dl
2
Lekosit
10000
4-10 103/mm3
3
Hematokrit
25
36 - 48 %
4
Reticulosit

0.5 – 2 %
5
Trombosit Indirek

/LP
6
Trombosit Direct
80000
150-450 103/mm3
7
Masa Perdarahan

< 6 menit
8
Masa Bekuan

< 15 menit
9
Rumple Leede

Negatif

4.  06 Januari 2012
Hasil Pemeriksaan Hematologi
No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
1
Hb (Cyan)
12,5
Pr : 12-14 , Lk : 14-16 gr/dl
2
Lekosit
9800
4-10 103/mm3
3
Hematokrit
38
36 - 48 %
4
Reticulosit

0.5 – 2 %
5
Trombosit Indirek

/LP
6
Trombosit Direct
105000
150-450 103/mm3
7
Masa Perdarahan

< 6 menit
8
Masa Bekuan

< 15 menit
9
Rumple Leede

Negatif



Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik

No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Fungsi Hati

Bilirubin Total

0,00 – 1,20 mg/dl

Bilirubin Direct

0,05 – 0,3 mg/dl

SGOT

0 – 40 U/l

SGPT

0 – 40 U/l

Alkali Phosphatase

64 – 306 U/l

Gamma GT 250C

10 – 47 U/l

Total protein

6,0 – 8,3 g/dl

Albumin
2,0
3,6 – 5,0 g/dl

Globulin

1,9 – 3,2 % g/dl

5.  10 Januari 2012
Hasil Pemeriksaan Hematologi
No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
1
Hb (Cyan)
11,3
Pr : 12-14 , Lk : 14-16 gr/dl
2
Lekosit
9.400
4-10 103/mm3
3
Hematokrit
34
36 - 48 %
4
Reticulosit

0.5 – 2 %
5
Trombosit Indirek

/LP
6
Trombosit Direct
137.000
150-450 103/mm3
7
Masa Perdarahan

< 6 menit
8
Masa Bekuan

< 15 menit
9
Rumple Leede

Negatif


6.  11 Januari 2012

Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik

No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Fungsi Hati

Bilirubin Total

0,00 – 1,20 mg/dl

Bilirubin Direct

0,05 – 0,3 mg/dl

SGOT

0 – 40 U/l

SGPT

0 – 40 U/l

Alkali Phosphatase

64 – 306 U/l

Gamma GT 250C

10 – 47 U/l

Total protein

6,0 – 8,3 g/dl

Albumin
2,2
3,6 – 5,0 g/dl

Globulin

1,9 – 3,2 % g/dl
Fungsi Ginjal

Ureum

10 – 50 mg/dl

Creatinin

0,6 – 1,20 mg/dl

Uric Acid

3,5 – 7,0 mg/dl


CPK 250C

0 – 190 U/l

LDH

240 – 480 U/l

CKMB

< 24 U/l


Cholesterol Total

140 – 200 mg/dl

Trigliserida

10 – 190 mg/dl

HDL – Cholesterol

35 – 55 mg/dl

LDL – Cholesterol

<190 mg/dl

Elektrolit



Natrium
136
136 – 155 mmol/dl

Kalium
3,8
3,5 – 5,5 mmol/dl

Chlorida
104
95 – 103 mmol/dl
Metabolisme Glukosa

Darah
Reduksi


Gula Puasa


60 – 110 mg/dl

2 jam PP


< 140 mg/dl

Andrandon
103

<140 mg/dl

HBA 1 C


6,0 %


Serum Iron

P:59 – 148 , W:37 – 145 ug/dl

T.I.B.C

274– 385 ug/dl

VI.             Pengobatan/Terapi

Obat
Dosis / Waktu
IVFD RL
Inj. Tramadol
Inj. Merupenem
Inj. Ranitidin
Inj. Ketorolac
Albumin
Dopamin

20 gtt/menit
100mg/8 jam
1gr/12 jam
1 amp/12 jam
1 amp/18 jam
100 cc/hari
200mg + 50 cc NaCl 0,9%/12jam




















ANALISA DATA

No
Data
Interpretasi Data
Masalah
1
DS :
- Klien mengatakan nyeri pada daerah luka bakar yang disebabkan terkena api
 - Klien mengatakan frekuensi nyeri hilang timbul
- Klien mengatakan durasi ± 10-15 menit
- Klien mengatakan nyerinya seperti ditusuk-tusuk
- Klien mengatakan nyeri bila menggerakkan kakinya
DO :
-Klien tampak meringis dan pucat menahan nyeri
- Skala nyeri 8
-TD : 110/70 mmHg
-Temp : 370C
- RR : 24 x/menit
- Nadi lemah
- HR 70 x/menit
Terkena api

Kerusakan kulit/jaringan

Kerusakan ujung saraf pada kulit

.              Nyeri

             

Gangguan rasa nyaman, nyeri.
2
DS:
-                 Klien mengatakan masih terdapat luka bakar dilengan kanan dan kiri
-                 Klien mengatakan masih terdapat lepuhan ditangan kanan dan kaki kanan
DO:
-    Kesadaran : CM, Kondisi umum : sedang
-    Tampak luka bakar yang belum kering
-    Terdapat lepuhan dilengan kanan Dan kaki kanan
Terkena api

Luka bakar

Kerusakan kulit
Kerusakan integritas kulit

3
DS :
- Klien mengatakan luka terbuka pada kedua kaki dan tangan yang disebabkan terkena api
 DO :
- Terdapat luka bakar Grade IIb
- Luka basah
- luas luka bakar ± 50 %
- kemerahan pada luka
- edema pada luka bakar
- pus (+)
- bula (+)
- Leukosit 9400 U/L

          Terkena api

kerusakan perlindungan kulit; jaringan traumatik.


 
Resiko tinggi terjadi infeksi
            Resiko tinggi infeksi
4
DO :
- os mengatakan susah bernafas
DO :
- os tampak susah bernafas
- RR : 24x/I
- pergerakan dada tidak simetris.

Terkena api

Mengenai wajah

Kerusakan mukosa

Oedema laring

Obstruksi jalan nafas

Jalan nafas tidak efektif
Resiko tinggi jalan nafas inefektif
5
DO :
-  os mengatakan tidak selera makan
DS :
-  os tidak dapat menghabiskan porsi makanan yang diberikan
- os kelihatan lemas

Terkena api

Kerusakan kulit

Penguapan meningkat

Peningkatan tekanan pembuluh darah

Ekstravasasi

Tekanan onkotik menurun

Status hipermetabolik, dan katabolisme protein
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


PRIORITAS MASALAH


1.    Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit/jaringan ditandai dengan Os mengatakan nyeri pada bagian tubuh yang terkena luka bakar, seperti dicabik-cabik, os kelihatan meringis dan pucat menahan nyeri, skala nyeri 8, TD = 110/ 70 mmHg, Temp = 370C, RR = 24 x/i, nadi lemah HR = 70 x/i.
2.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam)ditandai dengan masih terdapat luka bakar dilengan kanan dan kiri, masih terdapat lepuhan ditngan kanan dan kaki kanan, kondisi umum : sedang, tampak luka bakar yang belum kering.
3.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat,kerusakan perlindungan kulit; jaringan traumatic  ditandai dengan klien mengatakan luka terbuka pada kedua kaki dan tangan yang disebabkan tersengat listrik, terdapat luka bakar Grade IIb, luka basah,luas luka bakar ± 50%, kemerahan pada luka, edema pada luka bakar, bula (+), leukosit 9400 U/L
4.    Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada ditandai dengan - os mengatakan susah bernafas, os tampak susah bernafas, RR : 24x/I , pergerakan dada abnormal.
5.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik atau katabolisme protein ditandai dengan os mengatakan tidak selera makan, os tidak dapat menghabiskan porsi makanan yang diberikan, os kelihatan lemas.



CATATAN PERKEMBANGAN I

Nama Klien       :    Nn. J
Ruang                :    ICU
Hari
Tanggal
Dx. Keperawatan
Pukul
Implementasi
Evaluasi (SOAP)
    I
11 Jan 2012
Dx. 1
09.00

10.00





10.30


16.00

1.Mengakaji skala nyeri = 8
2.Mengukur TTV :
    TD : 110/70 mmHg
    RR : 20 x/i
    HR : 72 x/i
   Temp : 36,70C
3.Memberikan posisi yang nyaman
4.Mengajarkan pada klien teknik relaksasi dengan nafas dalam
5.Melakukan manajemen nyeri berupa distraksi (pengalihan perhatian dengan membahas suatu keadaan yg menyenangkan).
6. Memberi injeksi Tramadol , tentamyl + miloz
S:Os mengatakan masih nyeri pada luka bakar
O :Os tampak nyeri, skala nyeri 8
A : Masalah belum teratasi
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan.


Dx. 2
10.00









10.30
1.Mengkaji keadaan luka bakar.
2. Memberi terapi cairan sesuai kebutuhan
3.Mempertahankan penutupan luka sesuai indikasi
4. Memberikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan penyakitnya.
5. Berkolaborasi dgn dr untuk melakukan debridement.
S : Os mengatakan sebagian lukanya masih belum kering
O :  tampak luka bakar yang belum kering Dan terdapat lepuhan pada area luka bakar
A :  Masalah belum teratasi
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan



Dx. 3
10.00




10.30



14.00


11.00




16.00
1. Mengukur TTV
    TD : 110/70 mmHg
    RR : 24x/ i
2. Memantau balutan dan area luka bakar.
3. Mengukur suhu setiap 1 jam
4. Menganjurkan pasien mengkonsumsi banyak makan telur.
5.Membersihakan luka dan mengganti balutan serta mengangkat jaringan yang sudah nekrotik.

S :   -
O :  Lokasi luka bakar masih berair dan mengeluarkan darah,belum kering
A :  Masalah belum teratasi
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan



Dx.4
09.00

10.00


11.00




12.00


13.00



14.00



15.00





16.00

1. Mengkaji reflex menelan, serak, batuk mengi.
2. Mengkaji pola pernafasan.
3. Memperhatikan bunyi nafas
4. Memperhatikan keadaan luka bakar.
5. Mengatur posisi yang nyaman dengan meninggikan tempat tidur
6. Melatih nafas dalam dan perubahan posisi sering.
7. Menganjurkan untuk tidak terlalu sering mengeluarkan suara.
8. Berkolaborasi dengan dr dlm pemberian thy
S = os mengatakan masih susah bernafas
O = os tampak susah bernafas, HR : 16x/I, pergerakan dada tidak simetris.
A = Masalah belum teratasi
P = rencana tindakan dilanjutkan



Dx 5
08.00



09.00


10.00



11.00





12.00






13.00

1. Megauskultasi bising usus.
2. Mengontrol jumlah kalori normal
3. Memperhatikan masaa otot sesuai indikasi
4. Memberikan makanan kecil,sedikit tapi sering.
5. Mendorong pasien untuk menghabiskan porsi dietnya.
6.Memperhatikan makana yang disukai dan tak disukai
7. Menjaga kebersihan oral
S = os mengatakan tidak selera makan.
O = os tidak dapat menghabiskan porsi makanan yang diberikan, os kelihatan lemas
A = Masalah belum teratasi.
P = rencana tindakan dilanjutkan.



CATATAN PERKEMBANGAN II

Nama Klien       :    Nn. J
Ruang                :    ICU
Hari
Tanggal
Dx. Keperawatan
Pukul
Implementasi
Evaluasi (SOAP)
    II
12 Jan  2012
Dx. 1
09.00

10.00






10.30





16.00

1. Mengakaji skala nyeri = 8
2. Mengukur TTV :
    TD : 120/70 mmHg
    RR : 20 x/i
    HR : 76x/i
   Temp : 36,50C
3.Mengajarkan pada klien teknik relaksasi dengan nafas dalam
4.Melakukan manajemen nyeri berupa distraksi
5. Memberi injeksi Tramadol
Tentamyl + miloz
S :   Os mengatakan masih nyeri pada luka bakar
O :  Os tampak nyeri, skala nyeri 8
A :  Masalah belum teratasi
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan.


Dx. 2
10.00




10.30










1.Mengkaji keadaan luka bakar.
2.Mempertahankan penutupan luka sesuai indikasi
3. Memberikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan penyakitnya.
4. Berkolaborasi dgn dr untuk melakukan debridement.
S :   Os mengatakan mual berkurang
O :  tampak luka bakar yang belum kering Dan terdapat lepuhan pada area luka bakar
A :  Masalah belum teratasi
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan




Dx. 3
10.00




10.30



14.00


11.00




16.00
1. Mengukur TTV
    TD : 120/70 mmHg
    RR : 24x/ i
2. Memantau balutan dan area luka bakar.
3. Mengukur suhu setiap 1 jam
4. Menganjurkan pasien mengkonsumsi banyak makan telur.
5.Membersihakan luka dan mengganti balutan serta mengangkat jaringan yang sudah nekrotik.

S :   -
O :  Lokasi luka bakar masih berair dan mengeluarkan darah,belum kering
A :  Masalah belum teratasi
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan



Dx.4
09.00

10.00


11.00




12.00


13.00



14.00



15.00





16.00

1. Mengkaji reflex menelan, serak, batuk mengi.
2. Mengkaji pola pernafasan.
3. Memperhatikan bunyi nafas
4. Memperhatikan keadaan luka bakar.
5. Mengatur posisi yang nyaman dengan meninggikan tempat tidur
6. Melatih nafas dalam dan perubahan posisi sering.
7. Menganjurkan untuk tidak terlalu sering mengeluarkan suara.
8. Berkolaborasi dengan dr dlm pemberian thy
S = os mengatakan masih susah bernafas
O = os tampak susah bernafas, HR : 18x/I, pergerakan dada tidak simetris.
A = Masalah belum teratasi
P = rencana tindakan dilanjutkan



Dx 5
08.00



09.00


10.00



11.00





12.00






13.00

1. Megauskultasi bising usus.
2. Mengontrol jumlah kalori normal
3. Memperhatikan masaa otot sesuai indikasi
4. Memberikan makanan kecil,sedikit tapi sering.
5. Mendorong pasien untuk menghabiskan porsi dietnya.
6.Memperhatikan makana yang disukai dan tak disukai
7. Menjaga kebersihan oral
S = os mengatakan tidak selera makan.
O = os tidak dapat menghabiskan porsi makanan yang diberikan, os kelihatan lemas
A = Masalah belum teratasi.
P = rencana tindakan dilanjutkan.






CATATAN PERKEMBANGAN III

Nama Klien       :    Nn. J
Ruang                :    ICU
Hari
Tanggal
Dx. Keperawatan
Pukul
Implementasi
Evaluasi (SOAP)
    III
13 Jan 2012
Dx. 1
09.00


10.00






10.30





16.00

1. Mengakaji skala nyeri = 7
2. Mengukur TTV :
    TD : 120/70 mmHg
    RR : 20 x/i
    HR : 72 x/i
   Temp : 36,70C
3. Mengajarkan pada klien teknik relaksasi dengan nafas dalam
4. Memberi injeksi Tramadol
Tentamyl + miloz
S :   Os mengatakan nyeri mulai berkurang pada luka bakar
O :  Skala nyeri 4
A :  Masalah teratasi sebagian
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan.


Dx. 2
10.00









10.30








1.Mengkaji keadaan luka bakar.
2. Mempertahankan penutupan luka sesuai indikasi
3. Memberikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan penyakitnya.
4. Berkolaborasi dgn dr untuk melakukan debridement.
S :   Os mengatakan ada perkembangan pada kulit yang terkena luka bakar
O :  Beberapa bagian yang terkena luka bakar masih mengeluarkan cairan, beberapa bagian kulit terlihat berwarna kemerahan
A :  Masalah teratasi sebagian
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan


Dx. 3
10.00




10.30



14.00


11.00




16.00
1. Mengukur TTV
    TD : 110/70 mmHg
    RR : 24x/ i
2. Memantau balutan dan area luka bakar.
3. Mengukur suhu setiap 1 jam
4. Menganjurkan pasien mengkonsumsi banyak makan telur.
5.Membersihakan luka dan mengganti balutan serta mengangkat jaringan yang sudah nekrotik.

S :   -
O :  Beberapa lokasi luka bakar masih berair dan mengeluarkan darah,belum kering
A :  Masalah belum teratasi
P  :  Rencana tindakan dilanjutkan



Dx.4
09.00

10.00


11.00




12.00


13.00



14.00



15.00





16.00
1. Mengkaji reflex menelan, serak, batuk mengi.
2. Mengkaji pola pernafasan.
3. Memperhatikan bunyi nafas
4. Memperhatikan keadaan luka bakar.
5. Mengatur posisi yang nyaman dengan meninggikan tempat tidur
6. Melatih nafas dalam dan perubahan posisi sering.
7. Menganjurkan untuk tidak terlalu sering mengeluarkan suara.
8. Berkolaborasi dengan dr dlm pemberian thy
S = os mengatakan kadang-kadang susah bernafas
O =,HR : 20x/I, pergerakan dada tidak simetris.
A = Masalah teratasi sebagian
P = rencana tindakan dilanjutkan



Dx 5
08.00



09.00


10.00



11.00





12.00






13.00

1. Megauskultasi bising usus.
2. Mengontrol jumlah kalori normal
3. Memperhatikan masaa otot sesuai indikasi
4. Memberikan makanan kecil,sedikit tapi sering.
5. Mendorong pasien untuk menghabiskan porsi dietnya.
6.Memperhatikan makana yang disukai dan tak disukai
7. Menjaga kebersihan oral
S = os mengatakan selera makan sedang
O = os hampir dapat menghabiskan porsi makanan yang diberikan, os kelihatan lemas
A = Masalah teratasi sebagian.
P = rencana tindakan dilanjutkan.

BAB IV
PEMBAHASAN


            Setelah selesai melakukan dan menetapkan Asuhan Keperawatan Pada Nn.J Dengan Gangguan Sistem Integument: Luka Bakar Grade IIb 50% Di Ruang ICU RSU. Dr. Pirngadi Medan, yang diobservasi selama 2 hari, maka kelompok akan membahas beberapa hal yang mendorong atau menghambat atau mencapai tujuan yang harus diterapkan serta ada atau tidaknya kesenjangan yang dijumpai pada asuhan keperawatan secara konsep teori dengan kasus.
            Dalam hal ini kelompok akan membahas melalui tahapan-tahapan proses perawatan yang penulis lakukan :

4.1.  Tahap Pengkajian
            Selama melakukan pengkajian atau wawancara dengan keluarga pasien, penulis tidak menemukan kesalahan ataupun hambatan-hambatan karena pasien beserta keluarga dapat diajak komunikasi dalam mengungkapkan keluhan-keluhan yang dirasakan pasien. Pengkajian yang dilakukan pada Nn.J dengan  Luka Bakar Grade IIb 50% adalah : klien mengatakan nyeri pada area luka bakar yaitu bagian  wajah  ekstremitas atas dan bawah  yang disebabkan terkena api. Frekuensi nyeri hilang timbul, durasi ± 10-15 menit, skala nyeri 8. klien mengatakan nyerinya seperti ditusuk-tusuk. Nyeri dirasakan sejak mengalami luka bakar, klien mengatakan nyeri bertambah bila klien menggerakkan tubuhnya dan nyeri berkurang bila klien tidak menggerakkan tubuhnya..
            Kesenjangan yang diperoleh antara teori tentang pengkajian dengan pengkajian yang dilakukan kelompok pada klien tidak terdapat perbedaan. Setiap keluhan yang dirasakan klien terdapat pada pengkajian yang ada di teori, termasuk tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik yang dilakukan langsung oleh kelompok.



4.2. Tahap Diagnosa Keperawatan
             Diagnosa keperawatan yang dijumpai pada pasien dengan gangguan sistem integument : Luka Bakar Grade IIb 50% secara teori ada beberapa diagnosa yaitu :
1.    Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit/jaringan ditandai dengan Os mengatakan nyeri pada bagian tubuh yang terkena luka bakar, seperti dicabik-cabik, ajah os kelihatan meringis dan pucat menahan nyeri, skala nyeri 8.
2.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat,kerusakan perlindungan kulit; jaringan traumatic  ditandai dengan Lokasi luka bakar masih terbuka, kerusakan kulit
3.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam)ditandai dengan masih terdapat luka bakar dilengan kanan dan kiri, masih terdapat lepuhan ditngan kanan dan kaki kanan, kondisi umum : sedang, tampak luka bakar yang belum kering.
4.    Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada ditandai dengan - os mengatakan susah bernafas, os tampak susah bernafas, HR : 16x/I , pergerakan dada abnormal.
5.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik atau katabolisme protein ditandai dengan os mengatakan tidak selera makan, os tidak dapat menghabiskan porsi makanan yang diberikan, os kelihatan lemas.

4.3 Tahap Rencana Tindakan Keperawatan
    Pada tahap perencanaan intervensi, diagnosa yang ditemukan pada kasus seluruhnya di laksanakan oleh kelompok.


4.4 Tahap Implementasi
            Pada tahap pelaksanaan kelompok melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana yang telah disusun untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kelompok menemukan beberapa faktor pendukung dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yaitu adanya kerja sama keluarga dalam menerapkan tindakan keperawatan,  kerjasama seluruh anggota kelompok dan kerja sama antara kelompok dengan perawat ruangan dalam melanjutkan perawatan pada pasien. Sedangkan faktor penghambat dari pelaksanaan adalah pasien yang tidak kooperatif.

4.5 Tahap Evaluasi
Setelah kelompok melakukan perawatan selama 4 hari, masalah yang ditemukan pada kasus seluruhnya belum teratasi. Kelompok menemukan pada kasus 3 masalah keperawatan yaitu peningkatan gangguan rasa nyaman, nyeri belum seluruhnya teratasi karena nyeri masih dirasakan oleh klien, resiko infeksi teratasi sebagian karena klien kooperatif dalam perawatan luka bakarnya, , kerussakan integritas kulit juga belum teratasi karena pemulihan atau pun perbaikan jaringan kulit yang rusak membutuhkan rentang waktu yang cukup lama. Setelah hari ke 4 klien masih dirawat diruang ICU sehingga eveluasi seluruhnya masalah yang belum teratasi masih dilakukan perawatan.







BAB V
PENUTUP


5.1. Kesimpulan
            Prinsipnya dalam penanganan luka bakar yang pertama adalah bantu klien untuk menyingkirkan semua pakaiannya yang panas atau terbakar. Lantas, daerah yang terkena luka bakar mesti didinginkan air-mengalir. Dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit. Langkah pendinginan ini efektif sampai dengan tiga jam pasca kejadian. Pendinginan juga dapat dilakukan dengan pengompresan. Jangan menggunakan es karena dapat mengakibatkan vasokonstriksi alias mengerutnya pembuluh darah.
Bila luka bakar diakibatkan oleh bubuk, singkirkan dulu, baru disiram air mengalir. Di samping itu, pembersihan luka dengan membuang jaringan yang sudah mati tak boleh dilewatkan. Bagian tubuh yang terluka bakar selanjutnya harus ditutup dengan kassa. Namun, ini dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Untuk merawat luka bakar, sediaan perak (silver) berbentuk krim atau lembaran perak berbagai ukuran juga mudah didapat. Ia memiliki antiseptik yang dapat menembus kulit mati akibat luka bakar dan mampu melunakkan jaringan kulit mati hingga mudah mengangkatnya.

5.2. Saran
            Klien luka bakar sering mengalami kejadian bersamaan yang merugikan, seperti luka atau kematian anggota keluarga yang lain, kehilangan rumah dan lainnya. Klien luka bakar harus dirujuk untuk mendapatkan fasilitas perawatan yang lebih baik untuk menangani segera dan masalah jangka panjang yang menyertai pada luka bakar tertentu.
Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius.





DAFTAR PUSTAKA


1.    Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.
2.    Guyton & Hall. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta
3.    Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung
4.  Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2 (terjemahan). PT EGC. Jakarta.
5. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
6.  www. Google. Com “ Asuhan Keperawatan Dengan Luka Bakar”